Allah Ada tanpa tempat dan arah, I'tiqod Aswaja. Imam asy-Syafi’i Muhammad ibn Idris (w 204 H), seorang ulama Salaf terkemuka perintis madzhab Syafi’i,
Akidah Ulama Ahlussunnah; Allah Ada Tanpa Tempat. al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi, dalam al-Farqu Bayna al-Firaq, menyatakan bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallaahu wajhah berkata: “Allah itu ada sebelum adanya tempat. Dan keberadaan Allah sekarang seperti keberadaan-Nya sebelum adanya tempat.”
Kota-kota ini akan berkembang menjadi tempat penuh sukacita, tanpa dosa, kebobrokan dan semuanya mendukung ke arah kemuliaan Allah. Kota-kota yang didirikan oleh orang-orang tak berdosa akan melebihi kemegahan kota-kota kita dewasa ini. Di sini akan menjadi pusat ibadah yang hanya akan memuji dan memuliakan Allah yang benar.
“Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Kemudian Dia menciptakan tempat, dan Dia tetap dengan sifat-sifat-Nya yang Azali sebelum Dia menciptakan tempat tanpa tempat. Tidak boleh bagi-Nya berubah, baik pada Dzat maupun pada sifat-sifat-Nya” (LIhat az-Zabidi Ithâf as-Sâdah al-Muttaqî j. 2, h.
Sedangkan yang datang dari selatan, atau dari arah Yaman, miqotnya di Yalamlam (As Sa’diyah). Yang ke-5 jika jamaah datang dari Irak, miqotnya di Dzatu ‘Irq (Adh Dhoribah). Itulah lima tempat miqot yang telah ditetapkan Rasulullah. Jika ada yang melewati miqot tanpa beihram (dengan sengaja), wajib kembali lagi dan berihram dari tempat tersebut.
8VU3rN.
allah ada tanpa tempat dan arah